Frottlelus domesticus atau dikenal juga dengan sebutan katak tempurung rumahan adalah jenis katak antropomorfis endemis pulau Jawa. Katak tempurung rumahan sebenarnya adalah salah satu bentuk anomali genetika yang langka dalam dunia katak, dan sampai sekarang penjelasan ilmiah tentang anomali katak tempurung rumahan ini masih menjadi subjek penelitian para peneliti dunia perkatakan. Kasus pertama Katak tempurung rumahan ditemukan pada tahun 1978, di mana pasangan katak biasa yang berada di pulau Jawa menelurkan berudu yang memiliki tulang luar yang melebar pada punggungnya.
Ciri katak tempurung rumahan yang paling menonjol adalah adanya tulang luar punggung (karapaks) yang membungkus badannya. Karapaks ini terbentuk dari tulang rusuk yang tumbuh melebar dan tertutup oleh lapisan-lapisan tanduk yang dikenal sebagai lempeng-sisik. Berbeda dengan bangsa kura-kura, Katak Tempurung Rumahan tidak memiliki kulit pelindung perut (plastron). Katak tempurung rumahan jantan dewasa dapat tumbuh hingga 160cm dan berpostur kurus, sedangkan yang betina sekitar 170cm dan berpostur gemuk. Katak tempurung rumahan berjalan tegak dengan 2 kaki seperti manusia, posisi bahu dan leher agak turun serta condong ke depan karena terdorong lengkungan tepi bawah karapaksnya.
Populasi Katak Tempurung Rumahan tergolong sedikit. Berdasarkan data yang diperoleh dari Sensus Populasi Reptilia dan Amfibia Internasional pada tahun 2000, jumlah keseluruhan populasi katak tempurung rumahan hanya sekitar 50 ekor. Katak tempurung rumahan hidup di area perkotaan pulau Jawa, umumnya di daerah pemukiman yang tidak terlalu padat. Berbeda dengan kerabat dekatnya, katak keluyur (Frottlelus Exteriorus) yang selalu berpindah tempat, katak tempurung rumahan tergolong makhluk penyendiri, mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam sarang dan hanya keluar pada saat-saat tertentu saja. Walaupun tergolong makhluk penyendiri, mereka dapat hidup dalam kelompok kecil—kurang lebih 5 ekor—dan dapat berbaur dengan makhluk lain yang berada di sekitarnya, khususnya manusia.
(Prof. El Rana Grande. Ensiklopedi Katak Populer dan Tidak Populer. Pusat Pendidikan Katak Dunia, 2005:281.)
Kutipan di atas mungkin bisa sedikit menjelaskan tentang diri saya—yang memang hanya dapat sedikit dijelaskan—dan juga memberikan bukti nyata kalau saya adalah penghuni sah bola raksasa yang terdiri dari 78,08% nitrogen, 20,95% oksigen, 0,930% argon, 0,039% karbon dioksida, dan ~1% uap air ini.
Nama Frottlelus Domesticus pertama kali dipublikasikan oleh seekor dokter hewan, peneliti, penulis, ninja, dan sekaligus guru taman kanak-kanak yang bernama Dr. Yanni Nyanyammy Rabbitus. Kombinasi dari kata frog dan turtle menurut saya terdengar unik dan sedikit menggelitik telinga untuk nama spesies katak, tapi nama ini menjadi sangat antik dan eksentrik ketika diaplikasikan menjadi nama seekor katak. Mungkin taraf keantikan dan keeksentrikannya sama dengan manusia yang menamai anaknya Pieter Kantropus Ericktus.
Nama saya Frottlelus Katakungkong, semua komposisi yang terkandung di dalam nama saya semakin meyakinkan kerabat, teman, rekan kerja, tetangga, dan alam semesta bahwa saya adalah seekor katak yang bernama katak—walaupun katak dewasa tidak berekor, tetap saja satuan hitung bangsa saya itu "ekor". Jadi kalau ada yang bertanya apa arti nama saya, ya... Artinya katak, lebih tepatnya Katak Tempurung Katak Katak. Entah apa yang ada di pikiran orang tua saya ketika menamai berudu uniknya dengan nama yang fenomenal itu, mungkin mereka ingin meyakinkan kesejatian diri saya sebagai seekor katak kepada siapapun yang mengira saya adalah keturunan kura-kura atau penyu.
Keseharian saya sebagai katak yang bernama katak ini tidak jauh berbeda dengan kehidupan manusia atau hewan pada umumnya. Berhadapan dengan layar yang memancarkan kombinasi warna merah, hijau, dan biru selama beberapa belas jam setiap harinya, kecuali pada hari Sabtu dan Minggu. Khusus untuk dua hari tersebut saya lebih memilih untuk bermain atau memanjakan diri berguling-guling bagai trenggiling di atas pegas yang terbalut busa—terkadang hanya busa—sambil menikmati perjalanan sang bintang super panas yang melenggang menyeberangi kepala saya.
Saya kira perkenalan saya sudah cukup—sedikit. Oh iya, banyak manusia, hewan, dan juga manusia setengah hewan atau hewan setengah manusia yang beranggapan bahwa "No picture = hoax", oleh karena itu saya akan menyertakan foto saya ketika masih berudu yang berusia sekitar delapan minggu lima hari. Coba perhatikan kaki-kaki mungil itu, menggemaskan bukan?!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan berkungkong secara bebas, sopan, dan, bertanggung jawab, serta jangan lupa untuk membuang sampah pada tempatnya. Selamat berkungkong :)