Kalau Bisa Gratis, Kenapa Harus Bayar?

 

“Kalau bisa gratis, kenapa harus bayar?” Ada yang salah dengan pola pikir seperti itu? Tentu tidak, apalagi kalau diterapkan dalam bisnis. Modal minimal, untung maksimal—asyik kan?!

Dalam bisnis jasa, terutama jasa grafis berbasis komputer, perangkat lunak (software/aplikasi) menjadi salah satu modal yang tidak dapat diganggu gugat—selain komputer itu sendiri tentunya. Mulai dari sistem operasi, pengolah grafis, serta perangkat lunak penunjang lainnya.

Solusi Cermat Menggambar dengan Tinta

Bagi yang gemar menggambar secara manual, terkadang proses kreatif terhenti karena keterbatasan dana. Tidak dapat dipungkiri bahwa harga peralatan menggambar kian hari kian meregang kesehatan dompet. Apalagi kalau harus berurusan dengan peralatan yang didatangkan dari negeri seberang, semakin kembang kempislah si dompet.

Saya biasa menggunakan drawing pen/fineliner untuk menggambar, tetapi ada kalanya saya harus mengencangkan ikat pinggang. Semangat mencari alat menggambar alternatif yang lebih murah dengan kualitas tinta yang setara dengan drawing pen langganan pun membara dalam diri saya.

Sekitar akhir tahun lalu saya mulai mencoba menggambar dengan bolpoin gel. Hasilnya cukup memuaskan, warna hitam yang dihasilkan cukup pekat, dan mata pena dapat melaju dengan mulus walau di permukaan kertas yang cukup kasar.

Setelah mencoba beberapa merek dalam rentang harga maksimal Rp5.000-an, pilihan saya jatuh pada bolpoin gel buatan KENKO. Ada dua varian yang saya gunakan: varian pertama adalah Easy Gel dengan mata pena berukuran 0,5 mm dan varian kedua adalah Hi-Tech-H dengan mata pena berukuran 0,28 mm.

Seniman Hebat Adalah Seorang Pencuri

Good artists copy, great artists steal.

— Pablo Picasso

Entah sang maestro sedang bersenda gurau atau ruyup kronis, yang jelas pernyataan tersebut cukup populer. Waktu pertama kali mengetahui pernyataan itu—sekitar usia remaja—yang ada di benak saya adalah "Nyolong? mosok tho?".

Setelah sekian lama tidak menghiraukan, pernyataan tersebut muncul kembali saat saya mulai bekerja sebagai tukang gambar. Mulailah saya berpose seperti patung Le Penseur sesekali waktu.

Dari hasil meniru pose patung yang cukup populer itu, saya akhirnya dapat tidur dengan nyenyak karena mendapatkan sedikit pencerahan untuk kata "mencuri" dari pernyataan populer sang maestro.

Tersesat di GIMP

Beberapa waktu yang lalu saya merasa tersesat saat mencoba menjalankan aplikasi GIMP. Aplikasi grafis ini sempat menemani hari-hari awal saya sebagai tukang gambar. Sayangnya, aplikasi grafis ini sedikit tersingkir oleh aplikasi grafis lain seiring dengan berjalannya waktu.

Posisi beliau tergeser karena sering kali terengah-engah di tengah perjalanan, marah-marah tanpa sebab, dan akhirnya menendang saya kembali ke desktop. Beliau sempat beberapa kali saya usir dari komputer saya, sampai akhirnya saya izinkan untuk menetap sebagai aplikasi zombie—baik hati kan saya?!—yang saya buka sesekali waktu saja.

Frottlelus Domesticus

Frottlelus domesticus atau dikenal juga dengan sebutan katak tempurung rumahan adalah jenis katak antropomorfis endemis pulau Jawa. Katak tempurung rumahan sebenarnya adalah salah satu bentuk anomali genetika yang langka dalam dunia katak, dan sampai sekarang penjelasan ilmiah tentang anomali katak tempurung rumahan ini masih menjadi subjek penelitian para peneliti dunia perkatakan. Kasus pertama Katak tempurung rumahan ditemukan pada tahun 1978, di mana pasangan katak biasa yang berada di pulau Jawa menelurkan berudu yang memiliki tulang luar yang melebar pada punggungnya.