“Kalau bisa gratis, kenapa harus bayar?” Ada yang salah dengan pola pikir seperti itu? Tentu tidak, apalagi kalau diterapkan dalam bisnis. Modal minimal, untung maksimal—asyik kan?!
Dalam bisnis jasa, terutama jasa grafis berbasis komputer, perangkat lunak (software/aplikasi) menjadi salah satu modal yang tidak dapat diganggu gugat—selain komputer itu sendiri tentunya. Mulai dari sistem operasi, pengolah grafis, serta perangkat lunak penunjang lainnya.
Pada akhir tahun 1990-an sampai kira-kira dekade awal tahun 2000-an, memulai bisnis jasa grafis dengan perangkat lunak gratisan memang jarang terpikirkan, bahkan terdengar mustahil.
Saat itu, dunia jasa grafis di negara ini tunduk pada dominasi dua nama perusahaan raksasa: Corel dan Adobe, diikuti Macromedia yang penggunanya acap kali diperlakukan sebagai “warga pinggiran” karena popularitas Macromedia Freehand mulai redup dan tergeser oleh Corel Draw dan Adobe Illustrator.
Karena dominasi nama-nama besar tersebut, maka terbentuklah semacam kepercayaan bahwa pelaku jasa grafis harus menggunakan geng dominator tersebut—minimal salah satu lah, kurang lebih begitulah hasil pengamatan saya—padahal tidak selalu demikian.
Halo penguin dan sumber terbuka
Sekitar tahun 2007 saya mulai memasang Linux sebagai sistem operasi kedua untuk komputer pribadi saya. Alasannya adalah, saya ingin menghadirkan tampilan OS X Jaguar seperti komputer kantor pada desktop saya 😂 Saya memasang distro Mepis dengan desktop KDE, karena tampilannya saya anggap mirip dengan OS X.
Dari hasil coba-coba tersebut, saya mulai menggunakan beberapa aplikasi grafis pada Linux: GIMP, Inkscape, dan Scribus. Saya pun berpikir “Kalau bisa gratis, kenapa harus bayar?” Sejak saat itu mental gratisan saya terbuka dan bergejolak hebat, saya mencoba berbagai macam software alternatif, baik bersumber terbuka maupun bersumber tertutup tetapi gratis.
Awalnya memang banyak kendala ketika menggunakan geng alternatif tersebut, mulai dari galat, inkompatibilitas berkas, dukungan setengah hati untuk beberapa perangkat keras tertentu, dan berbagai hal menyulitkan lainnya.
Untungnya saat ini geng alternatif tersebut sudah mengalami banyak peningkatan dan perbaikan, selain itu semakin banyak bermunculan pula perangkat lunak tidak berbayar baru sehingga pilihan pun terbuka lebih luas lagi.
Software alternatif untuk bisnis jasa grafis
Dari hasil mencoba sekian banyak software tidak berbayar, beberapa di antaranya masih menemani saya sampai saat ini, sisanya sudah hengkang atau berstatus zombi di komputer saya. Berikut adalah beberapa rekomendasi perangkat lunak grafis alternatif yang layak dicoba:
GIMP
GIMP sudah cukup berumur dalam dunia grafis komputer, maka tak heran jika kinerja GIMP tergolong stabil ketika dijalankan. Fitur yang ditawarkan cukup lengkap sebagai alternatif pengganti Adobe Photoshop, hal ini tentunya berdasarkan pandangan saya sebagai seekor ilustrator, bukan sebagai fotografer.
Tidak hanya kinerja stabil, GIMP juga masih mendukung perangkat keras lawas. Versi terakhir 2.10.x masih dapat saya jalankan di komputer tahun 2012 hampir tanpa hambatan, bahkan jauh lebih stabil daripada versi sebelumnya.
Kekurangan GIMP terletak pada alur kerja (workflow) yang berbeda jauh dari Adobe Photoshop, jadi bagi yang baru saja migrasi dari Photoshop dapat dipastikan akan mengalami kendala. Kekurangan lain terletak pada saat memulai aplikasi, proses deteksi font tergolong cukup lama (walaupun sudah mengalami banyak kemajuan).
Selain yang saya sebutkan, saya tidak menemukan kekurangan lain untuk penggunaan saya. GIMP cocok digunakan sebagai editor gambar/foto, untuk menggambar/melukis secara digital, dan keperluan desain.
GIMP dapat diunduh lewat situs resminya dan tersedia untuk sistem operasi Linux, Windows, dan macOS.
Inkscape
Inkscape adalah salah satu andalan saya untuk keperluan grafis vektor. Hampir semua karya vektor saya adalah hasil dari Inkscape, baik itu tracing bitmap maupun vektor murni.
Fitur pengolah grafis vektor ini sangat lengkap, bahkan jauh lebih lengkap daripada beberapa perangkat lunak komersil—apa kabar Affinity Designer? Graphic?—dan penggunaannya pun—bagi saya pribadi—jauh lebih mudah bila dibandingkan Adobe Illustrator atau Corel Draw.
Hampir semua fitur andalan pengolah grafis vektor komersil disediakan oleh Inkscape, mulai dari Trace Bitmap, Path Effects, Text on Path, dukungan tablet grafis, dan lain sebagainya. Hal ini menjadikan Inkscape sebuah perangkat lunak fleksibel untuk keperluan menggambar digital atau desain.
Fitur favorit saya adalah auto trace yang menurut saya lebih akurat daripada Illustrator ataupun Draw. Path Effects juga menjadi fitur efektif untuk memanipulasi objek vektor dengan kemampuan fantastis nan fleksibel. Selain itu, rotasi kanvas serta penerapan pen pressure pada Inkscape menurut saya lebih masuk akal bila dibandingkan aplikasi pengolah grafis vektor lainnya.
Kekurangan Inkscape yang saya alami adalah penerapan warna CMYK masih terasa rumit, selebihnya adalah masalah yang dipicu oleh uzurnya perangkat keras serta sistem operasi saya. Versi 1.0 menawarkan fitur serta dukungan lebih lengkap, termasuk integrasi yang lebih mudah dengan Scribus untuk warna CMYK, sayangnya sistem operasi utama saya tidak mendukung Inkscape versi 1.0 ke atas.
Inkscape versi 1.x dapat diunduh lewat situs resminya dan tersedia untuk sistem operasi Linux, Windows, macOS (10.11 ke atas). Bagi pengguna macOS 10.11 ke bawah dapat menggunakan Inkscape versi 0.92 dengan tambahan XQuartz.
Scribus
Bagi penata letak di dunia percetakan, Scribus dapat dijadikan alternatif sebagai pengganti Adobe InDesign, Corel Draw, atau QuarkXpress. Scribus adalah program grafis untuk penerbitan desktop, jadi fitur bawaannya lebih banyak berkaitan dengan tata letak halaman untuk penerbitan digital serta cetak.
Yang paling saya sukai dari Scribus adalah fitur kecil yang bagi saya sangat berguna: Align to Baseline Grid. Ketika menggunakan InDesign (versi lama), saya tidak menemukan fitur tersebut. Mungkin fitur tersebut sudah diterapkan pada versi baru InDesign, tetapi saya tidak tahu pasti, karena InDesign saya tinggalkan begitu saya berkenalan dengan Scribus.
Scribus juga merupakan pasangan kombo Inkscape bila saya ingin menghasilkan berkas PDF dengan warna CMYK. Penerapan warna pada Scribus dapat dikatakan cukup lengkap, mulai dari warna RGB, CMYK, warna spot, serta manajemen warna menggunakan profil ICC.
Scribus dapat diunduh melalui situs resminya dan tersedia untuk sistem operasi Linux, Windows, dan macOS. Seperti Inkscape, bagi pengguna macOS versi lama dapat menggunakan Scribus versi 1.4.x
Krita
Krita dapat dikatakan sebagai pendatang baru, tetapi tidak dapat dipandang sebelah mata. Fitur Krita dapat dikatakan paling lengkap untuk kebutuhan grafis serta animasi, terutama bagi keperluan menggambar atau melukis secara digital.
Krita menggabungkan kemampuan menggambar raster, vektor, serta animasi ke dalam satu aplikasi, jadi sangat disarankan bagi para ilustrator atau animator yang ingin memangkas anggaran belanja software.
Yang paling saya sukai adalah kemampuan Krita mengolah objek raster dan vektor tanpa harus berganti aplikasi. Selain itu, pilihan brush serta brush engine yang digunakan Krita sangat dinamis—bisa dianggap sebagai surga bagi para pengulik brush—karena hampir setiap aspek brush dapat diatur sesuai dengan kebutuhan.
Sayangnya Krita termasuk perangkat lunak “rewel” bagi komputer saya—lagi-lagi pengaruh usia. Ketika saya menjalankan Krita pada Linux atau Windows, tingkat rewel-o-meter tidak seganas pada macOS, jadi saya beranggapan masalah ada pada perangkat keras dan sistem operasi saya, bukan pada Krita.
Untuk berkas berdimensi besar (sekitar 7000-9000 px) dengan banyak layer Krita sering kali menyiput di tengah jalan, tetapi tidak demikian bila menggunakan ukuran standar (sekitar 4000 px), hal tersebut menyebabkan saya jarang menggunakan Krita, mungkin saya akan mencobanya kembali bila saya sudah membeli SSD atau berganti komputer.
Krita dapat diunduh lewat situs resminya dan tersedia untuk sistem operasi Linux, Windows, dan macOS. Versi Android juga tersedia lewat PlayStore.
Masih ada alternatif lainnya?
Selain yang telah disebutkan sebelumnya, sebenarnya masih terdapat banyak pilihan perangkat lunak alternatif lainnya, baik aplikasi desktop maupun aplikasi berbasis web.
Karena aplikasi berbasis web membutuhkan koneksi internet, saya menganggap “geng konek” tersebut kurang efektif untuk kondisi produksi karena koneksi internet di negara ini masih menyajikan banyak “kejutan” tak terduga pada penggunanya.
Berikut saya sertakan daftar beberapa perangkat lunak desktop alternatif yang pernah dan masih saya gunakan untuk berbagai macam kebutuhan:
Menggambar atau ilustrasi
Pengolah grafis 3D
Pengolah video
Pengolah efek visual
Perkantoran
. . .
Terlepas dari berbagai perilaku ajaib yang dimiliki masing-masing software, keberadaan software bersumber terbuka dan software gratis jelas sangat membantu pemangkasan anggaran untuk memulai bisnis jasa dalam bidang grafis, karena “Kalau bisa gratis, kenapa harus bayar?”
Walaupun geng alternatif tersebut tidak selalu cocok bagi pelaku bisnis jasa grafis, tidak ada salahnya untuk mempelajarinya terlebih dahulu sebelum mempelajari perangkat lunak komersil. Karena selain hemat biaya, penggunaannya pun juga legal, maka jauhlah masalah legalitas software dari bisnis kita. Semoga bermanfaat dan salam kungkong!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan berkungkong secara bebas, sopan, dan, bertanggung jawab, serta jangan lupa untuk membuang sampah pada tempatnya. Selamat berkungkong :)